Sesampai dirumah, ku raih tas ransel yang biasa aku pakai pergi kuliah. Ku masukkan dua pasang baju ganti. Menyiapkan segala perlengkapan dan aku pun segera tidur. Malam itu, kepalaku terasa begitu berat. Tak lupa ku berdoa, jika Allah mengizinkan aku akan sehat dan akan bepergian esok hari ke Bireuen. Tak terasa tidur malam itu, tiba tiba adzan shubuh sudah berkumandang.
Mentari masih malu untuk menampakkan dirinya, hawa dingin malam masih terasa menusuk tulang, bahkan persawahan di kaki gunung masih di selimuti kabut putih tebal. Baru kali ini, aku merasakan dekat sekali dengan karunia Tuhan. Perpohonan hijau masih sangat menyejukkan mata pagi itu, jalanan juga masih sepi. Terkadang hanya ada satu dua sepeda motor yang melintasi jalan bersama kami.
Alam pagi itu benar-benar membuat kami lalai, sehingga tak terasa kami sudah hampir sampai pada kaki gunung seulawah. Cacing di perut mulai berasa obrolannya, kami pun singgah pada salah satu warung kopi pinggir jalan. Menyumpal perut dengan makanan seadanya, dan kembali menyusuri jalan lagi. Aku yang baru pertama kali memiliki perjalanan yang luar biasa ini, merasa sangat terpukau dengan alam yang di miliki Aceh.
Tepat adzan Zuhur berkumandang, kami bertiga sudah memasuki kota Bireuen. Kota yang begitu melekat dengan kripik pisang, Sate matang dan sejarah yang begitu kental ini masih saja ramai. Masyarakat berlalu lalang menyusuri sudut demi sudut kota. Bunyi riuh sepeda motor dan mobil truk terdengar sangat menyengit di telinga.
Aku lumayan dekat dengan kota ini, meskipun aku sangat jarang bermain kesini. Ada beberapa kerabat disini, ibu ku orang Pandrah, Kecamatan sebelum kota Bireuen. Abang dari Ibu, juga tinggal di Bireuen. Wawak dari Ayah dan abang sepupu yang sudah berkeluarga juga tinggal di Bireuen. Di Peudada sama di Cot Gapu.
Sesampai di Bireuen, kami di sambut panggilan Allah.Tapi, kami mementingkan panggilan perut terlebih dahulu (LHO?) Singgah pada salah satu rumah makan di tengah kota Bireuen, dan menyantap makanan ala kadarnya. Sambil, seorang teman terus menghubungi teman-temannya yang berada di Bireuen.\
"Abis ini kita kemana kak?" Tanyaku pada kak Dara.
"Kakaknya kakak suruh kita ke Pendopo dek, suruh kita istirahat disana," ujar Kak Dara
Aku pun mengikuti intruksi kak dara. Setelah makan, kami langsung menuju pendopo. Takut zuhurku tinggal. Sesampai di Pendopo, kami beristirahat di mushalla sembari melaksanakan sholat zuhur. Setelah itu, kami diberi satu kamar untuk beristirahat.
Selesai merebahkan tubuh sampai adzan Ashar, kami pun berniat untuk pergi berkelana mengelilingi kota Bireuen. Rencana punya rencana kami mau mengunjungi rumah sakit Fauziah, dengan niat mau menulis mengenai sejarah rumah sakit itu. Namun, teman laki-laki yang ikut ke Bireuen bersama kami mengajak kami untuk ikut dengannya ke sebuah perguruan tinggi negri di Matang. Universitas Al muslim namanya. Tak lama kami disana, sebelum magrib kami sudah menyusuri jalan pulang ke Pendopo.
Tidak ada yang ganjal hari itu, kami tidur dengan nyenyak hingga hari 'H' tiba. Acara workshop di buka dengan coffee break bersama bapak bupati. Aku bersama kak dara hanya menikmati sarapan saja, selepas itu kami berkeliling pendopo. Berpose di setiap sudut, mengabadikan berbagai moment pada kamera.
Ahh,.. Aku suka berfoto ^_^
Ahh,.. Aku suka berfoto ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar