Kamis, 30 Januari 2014

Belajar mencinta dari ibu :)

Kamu tau sejak kapan aku belajar mencinta ? Sejak aku tau bagaimana gigihnya ibu mengajarkanku berjalan, mengajarkanku tertawa lepas, mengajarkanku mengucapkan sepatah demi sepatah kata.
Disaat itulah tanpa kusadari aku sedang merajut ilmu yang bernama cinta. Dan ibu adalah objek cinta pertama yang aku punya.
Masihkah kau tanya seberapa besar aku mencintai sosok ibu?
Sebesar kau mencintai sesuatu yang sangat berharga bagimu. Bahkan rasaku jauh besarnya dari sesuatu yang sangat berharga itu.
Bahkan kuakui, cintaku pada ibu melebihi cintaku padamu yang baru saja mekar kemarin sore. Mungkin hingga saat ini, yang dapat ku pahami mengenai cinta sejati, adalah cintaku pada ibu.
Cintaku pada ibu tak akan pernah gugur pada musim gugur. Tak akan pernah padam pada musim hujan. Dan tak akan pernah mencair pada musim kemarau.
Namun, tetap saja ibu perlahan demi perlahan mengajrkanku untuk dpt mencintai apa yang ada disekitarku. Lingkungan, kerabat, saudara seiman, bahkan ibu mengajarkanku untuk berbagi cinta denganmu.
Apakah, kau sudah tau. Bahwa sosok yang mengajariku cinta adalah ibu. Dari sosok ibulah aku mengerti tentang arti kesetiaan, ketulusan, belajar memahami orang lain, belajar bersabar dan belajar memahami cinta yang kini tumbuh di hatiku. Cinta yang tulus untukmu.
:)

Kamis, 02 Januari 2014

Ibu dan hari itu

Kamu tau bagaimana rasanya mencintai seseorang, tapi tak bisa bersamanya ? Atau kamu tau bagaimana rasanya, jika seseorang yg kamu sayang tidak bisa melihat kamu memberi kebahagiaan kepadanya ?
Aku tau bagaimana rasanya, rasanya kehilangan seseorang yang belum saatnya untuk menghilang dari kehidupanku. Sosok itu, adalah sosok wanita terhebat didunia yang ku punya.

Ya. Wanita hebat itu adalah ibu. Aku dilahirkannya sebagai anugrah pertama cinta nya dengan ayah. Aku lahir dan besar di gubuk sederhana kami. Aku diberinya lantunan-lantunan syair kehidupan yang sangat indah, diajarkanku untuk mengenal tuhanku. Diajarkannya untuk memahami sisi kehidupan yang sampai saat ini masih ku genggam erat prinsip itu.
Kehidupanku bersamanya tak pernah tersandung sedikitpun. Meski kami, selalu hidup dalam kata cukup. Tapi, bahagia yang kurasa sangatlah sempurna.
Namun, Allah menakdirkan hari itu hadir sebagai hari terakhir aku menatap wajah anggunnya. Sebagai hari terakhir aku mendengar rintihan kata kata dari mulutnya dan sebagai hari terakhir untuk aku merasakan kecupannya yang mendarat di keningku.
Hari itu membuat kami terpisah bukan hanya ribuan kilometer tapi membuat kami berpisah alam yang berbeda. Hari itu menghancurkan semua mimpi-mimpiku untuk dapat hidup bahagia bersamanya.
Hari itu, tepat pada tanggal 26 desember 2004. Sembilan tahun yang lalu, ketika aku masih berumur sepuluh tahun. Ketika aku mulai menginjakkan kaki menuju masa remaja. Ketika itulah tak lagi ku temukan sosok ibu.
Kini, aku telah dewasa. Usia ku, sudah sembilan belas tahun. Tapi, tak sedikitpun aku melupakan atau bahkan menoreh kenanganku bersama ibu. Aku masih sangat ingat raut wajahnya hari itu, baju yang ia pakai hari itu bahkan berapa kali ciuman yang ia berikan kepadaku.
Ibu, kenangan bersamamu tak akan pernah usai dalam kehidupanku. You are my everythink :)